“
tenang saja sob, aku selalu ada untukmu...” begitulah yg dikatakan sobatku, bai
haqi kepadaku beberapa waktu lalu. Aku tak pernah melupakan nya, perkataan itu
seperti dia memberi ku kepastian bahwa aku tak pernah sendiri. Begitukah?
Aku lagi bete, hari ini aku bete.
Dan seperti biasa, hidupku masih berjalan normal apa adanya, ini hari kamis dan
aku puasa qadha’ (selain untuk nyaur utang, juga biar aku hemat. maklum masih
resesi) dan aku pun masih seperti biasa, ke kampus, kuliah hukum islam jam pertama,
dateng telat, di ledekin april, mas udin, mas bagas, isqy n di guyu mas even.
Begitulah... pagi itu, aku juga sempat berbincang dengan asoka, cempaka &
orisa. Masih gak ada yg special, aku
juga ketemu uul, yg sekarang masih mondok di al qur’anyy azzayadi. Udah? Belum
ada yg special juga. Apa hidupku terlalu membosankan? Tidak juga. Layaknya
mahasiswa yang sedang berusaha mikir dewasa pada umumnya, hatiku juga risau.
Resesi yang kualami membuatku berfikir ‘apa benar aku sudah tak butuh uang dari
orang tua lagi?’ nyatanya, uang di dompet tinggal 10ribu, cukuplah kalo buat
makan 2-3 kali. Tapi katakanlah masih ada hari esok dan aku makan apa ??
Terlepas dari kata resesi, selesai
kuliah jam kedua aku langsung pulang, buka laptop n men charge hape. Aku tak
banyak melakukan kegiatan yang cukup berarti, akhirnya jam 12 aku tidur, bangun
jam 14.00 setelah shalat aku langsung ke kampus, ada kuliah bahasa indonesia
sampai sore ini. aku melewati sekre gova, seperti biasa, rame. Aku hanya duduk diam di depan perpustakaan,
dan begitulah, melihat kendaraan yg berlalu lalang di depan kampus. hhhh aku mendesah pelan, rasa bosan mulai
mengusik. Dan saat bel masuk berbunyi, aku segera berjalan menuju kelas. di
depan sekre novum aku bertemu evy isqy dan om tyo, aku duduk di sebelah mereka
sambil nunggu dosen rawuh. Dan yusuf juga datang, beberapa saat kemudian om tyo
dan yusuf sibuk main bilyard di tab. Sementara evy isqy dan aku? Kami jadi
orang autis yang sibuk dengan hape masing masing. Sempat terpikir dalam benakku,
apa aku telpon orang tua saja? Walau sudah 17tahun bukan berarti aku lepas dari
tanggungan orang tua sepenuhnya bukan? Ahhh aku terlalu naif dan gengsi,
mungkin. Apa aku bbm pak ustadz amm saja? Aahhh itu juga aku tak mungkin terus
menerus merepotkan dirinya, nanti aku ketergantungan. Akhirnya aku buka fb, dan
mengobrol sedikit dengan sahabat asrari puadi, ya ya ya. sudah setengah jam berlalu, dosen yang
ditunggu belum datang juga, aku masih sibuk dengan hape. Dan berharap orang tua
akan menelponku (lho? Yg butuh siapa?) oke, yahh setidaknya mereka bisa bilang
kalo mereka kangen atau menanyakan keadaanku, tapi itu tak akan terjadi. Aku
mencoba berfikir lagi, aahhh hidup ini terlalu singkat, kalo aku terus bergulat
dengan pikiran lalu bagaimana dengan aksi? Pikirku begitu.
Sudah 1 jam, dosen belum juga
datang. Aku memutuskan untuk ke sekre gova, ada mba ratih yg manis seperti
biasanya, ada mba silva juga yang lebih mirip orang mau kondangan daripada mau
kuliah hihihi dengan rok dan sepatu wedges, mba sil anggun sekali, pikirku. Aku
diam. Lalu datang mas yusuf, dengan membawa 2 minuman. Mengobrol dan tertawa,
aku masih sibuk dengan pikiranku dan tak tahu harus berbuat apa. aku malah
memandangi pohon besar yang ada di parkiran kampus, di beberapa kondisi (seperti
saat ini) pohon itu terlihat menyeramkan, pikirku lagi. dan saat tongkrongan
itu sudah terlalu ramai aku beranjak. Mungkin benar kata orang orang tentangku,
aku suka menyendiri, aku suka tempat yang sepi (kukatakan lebih ke tempat yg
tenang daripada sepi) aaahhh tak ada yang salah ku kira. Dan aku memutuskan
untuk telpon embah, diangkat! Ternyata embah lagi sakit. Saat itu aku sadar,
aku tak mungkin selamanya menggantungkan hidup pada orang tua. Ya, hal itu
membuatku berfikir lagi. aahhh aku jadi kangen ayah (saat menuliskan ini) suatu
anugerah bagiku bisa hidup hingga sebesar ini J dhhh kenapa jadi melankolis begini. Lanjut ke cerita tadi,
selesai aku menelpon embah, aku langsung masuk ke dalam sekre, ada mba tata yang masih pucat (baru sembuh dari
sakit kemarin) dan mas pandu yg tetap gokil seperti biasa. lalu disusul dyah,
april. Dan suasana jadi ramai. Aku ingin pulang! Tapi males banget jalan dari
kampus sampai kos, yang bener aja? Ya ga papa sih, tapi lemes gitu. Aku mnunggu
dyah menyelesaikan makan nya, dan kusuruh dia mengantarku (adakah pilihan
lain?) kurasa tidak. Dyah sibuk ngobrol dengan bayu, sementara mba tata lagi
sibuk nonton tv dan april sedang bercanda dengan mas pandu. aku bingung mau
ngapain. Aku pengen curhat dengan dyah, tapi dyah masih ngobrol dengan bayu,
dan aku tahu aku gak akan di perhatikan. Aku langsung beranjak. Bayu tahu aku
kesal, ya memang aku kesal, tapi aku berusaha menutupinya dengan tawa hehehe
(dalam hati: ayo dong din, bersikaplah dewasa!) aku tak ingin terlihat kesal
dimata mereka, ya aku berusaha sewajar mungkin untuk bersikap biasa saja.
Hhh... ternyata bayu lumayan peka juga.
Mas chandra lewat, ahh aku masih
berhutang padanya. Aku belum minta maaf atas insiden yang kutulis disini, duhh
piye iki? Sejenak aku berfikir untuk menyapanya, tapi rasa bersalah dan malu
ini mengurungkan niatku. Aku diam saja, sebenarnya, aku tak tahu caranya
meminta maaf. Aku takut, aku aahh entahlah!!! Mungkin aku akan tahu caranya
setelah aku bisa memaafkan orang lain. Gak aneh sih, aku gak bisa maafin orang
dan aku gak bisa minta maaf. Samasekali tidak! Dan pikirku, kalo begitu apa
gunanya semua shalat puasa dan amal ibadahku jika aku tak minta maaf?? Aku
tahu, Allah tak akan menerima nya. Dan
begitulah, karena aku manusia, dan punya pikiran, mungkin ini semua
membuat hidup jadi tak mudah.
Tiba tiba aku merasa pusing, ah
mungkin vertigo ku kambuh lagi tapi aku ingin menyelesaikan nya. okelah. Jadi
ingat juga tadi mas yusuf sempat bertanya, “din, punya korek?” dan tak akan
kutulis apa yg kukatakan padanya. Itu pertanyaan aneh! Kenapa aku yg ditanya?
Bukankah ada banyak orang disekre, dan dia menyalakan rokok, damn! Kekesalan ku
tak berhenti sampai situ saja, tapi aku juga ingat, hari ini aku puasa, masa
karena hal kayak gitu aku jadi kesal? Nanti puasaku gak dapet pahala, Cuma
dapet laper & haus aja. Aku istighfar..
Dan mas pandu menanyaiku juga “din,
tulisan kamu mana? Aku jadi book reader mu hlo, tak tunggu hlo bla bla bla...”
aku bingung. Buku apa? maksud nya apa? kenapa dia nanya begitu? aku berusaha
santai menanggapinya, tapi dalam hati mungkin aku tahu, mungkin yg dia maksud,
blog ku yang isinya curhat yg telah menyakiti banyak orang aahhh, namanya juga
dinda violence, dinda jahat, dinda liar, dinda nyebelin! Tak tahu lah. Sampai
detik ini, aku mendesah, bingung. Kalopun blog ini dibaca sama orang sedunia
pun AKU TAK PEDULI AKU TAK AKAN PEDULI DAN AKU TAK PERNAH PEDULI. Aku jahat ya?
iya aku jahat banget. Kalo ada yang bilang “jangan curhat di blog ini” aku juga
gak peduli, kenapa aku gak boleh nulis curhat ku disini sementara mereka yang
bilang begitu tak pernah ada untuk mendengar curhatku trus aku harus gimana????
Aku nangis, aku bener bener nangis
sekarang. Sumpah, aku gak peduli. Mau orang bilang apa dan coment gimana juga aku
gak peduli. orang orang hanya bisa berkomentar tanpa tahu bagaimana diriku, yg
terjadi padaku dan perasaanku. Ya, mereka Cuma bisa komentar.
Maaf, aku memang labil, aku memang
jahat, dan aku kira aku bisa membuatku sedikit merasa lebih baik, dan hidup
dengan cara yg lebih baik. Dan aku telah meninggalkan rokok dan kopi, semenjak
curhat dengan pak ustadz. Dari sekian banyak orang, mungkin dia lah yg paling
bisa mengerti walau dia tak tahu diriku. Mungkin dia yang paling sering ada
dalam masa masa tersulit dalam hidupku,
mungkin dia yang paling bisa mengerti, aku merokok, aku over aku labil.
Dan hanya dia yang tidak menyalahkan ku.
Hanya dia yang bisa menasehati tanpa menghakimi. Sekali lagi, aku jadi
terlalu naif.
![]() |
| rasanya, aku ingin nyebur kelaut saja |
Dan walau bagaimanapun juga, aku tetaplah
seorang manusia, seorang gadis, dengan segala tingkah laku ku yang seperti ini.
mungkin saat pertama kali banyak yang bilang, dinda pendiem,dinda baik, tapi
sebenernya mereka katakan itu karena mereka belum mengenalku. Dan saat aku
mulai memunculkan sifat sifatku yg tak mereka tahu lalu mereka bilang
“berubahlah jadi dinda yang dulu...” tapi aku tak bisa, karena inilah diriku.
Aku bisa luput, dan aku sering salah, maafkan aku. Dan bagaimanapun juga aku
tak pernah bisa dimaafkan oleh siapapun karena aku sendiri belum bisa
memaafkan. Semua luka, yang kudapat, sakit hati, telah kupendam selama hampir
18 tahun hidupku ini, maafkan aku. Mungkin ini alasan, kenapa aku sering
menamakan diriku violence, dan blog ini kuberi judul learn to life, karena aku
memang belum benar benar hidup, sebagai manusia. Dan sayup sayup kudengar adzan berkumandang,
aku mengakhiri tulisan ini untuk segera berbuka,Alhamdulillah.
alif laam miim....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar