Kamis, 20 Maret 2014

bete



“ tenang saja sob, aku selalu ada untukmu...” begitulah yg dikatakan sobatku, bai haqi kepadaku beberapa waktu lalu. Aku tak pernah melupakan nya, perkataan itu seperti dia memberi ku kepastian bahwa aku tak pernah sendiri. Begitukah?
            Aku lagi bete, hari ini aku bete. Dan seperti biasa, hidupku masih berjalan normal apa adanya, ini hari kamis dan aku puasa qadha’ (selain untuk nyaur utang, juga biar aku hemat. maklum masih resesi) dan aku pun masih seperti biasa, ke kampus, kuliah hukum islam jam pertama, dateng telat, di ledekin april, mas udin, mas bagas, isqy n di guyu mas even. Begitulah... pagi itu, aku juga sempat berbincang dengan asoka, cempaka & orisa.  Masih gak ada yg special, aku juga ketemu uul, yg sekarang masih mondok di al qur’anyy azzayadi. Udah? Belum ada yg special juga. Apa hidupku terlalu membosankan? Tidak juga. Layaknya mahasiswa yang sedang berusaha mikir dewasa pada umumnya, hatiku juga risau. Resesi yang kualami membuatku berfikir ‘apa benar aku sudah tak butuh uang dari orang tua lagi?’ nyatanya, uang di dompet tinggal 10ribu, cukuplah kalo buat makan 2-3 kali. Tapi katakanlah masih ada hari esok dan aku makan apa ??
            Terlepas dari kata resesi, selesai kuliah jam kedua aku langsung pulang, buka laptop n men charge hape. Aku tak banyak melakukan kegiatan yang cukup berarti, akhirnya jam 12 aku tidur, bangun jam 14.00 setelah shalat aku langsung ke kampus, ada kuliah bahasa indonesia sampai sore ini. aku melewati sekre gova, seperti biasa, rame.  Aku hanya duduk diam di depan perpustakaan, dan begitulah, melihat kendaraan yg berlalu lalang di depan kampus.  hhhh aku mendesah pelan, rasa bosan mulai mengusik. Dan saat bel masuk berbunyi, aku segera berjalan menuju kelas. di depan sekre novum aku bertemu evy isqy dan om tyo, aku duduk di sebelah mereka sambil nunggu dosen rawuh. Dan yusuf juga datang, beberapa saat kemudian om tyo dan yusuf sibuk main bilyard di tab. Sementara evy isqy dan aku? Kami jadi orang autis yang sibuk dengan hape masing masing. Sempat terpikir dalam benakku, apa aku telpon orang tua saja? Walau sudah 17tahun bukan berarti aku lepas dari tanggungan orang tua sepenuhnya bukan? Ahhh aku terlalu naif dan gengsi, mungkin. Apa aku bbm pak ustadz amm saja? Aahhh itu juga aku tak mungkin terus menerus merepotkan dirinya, nanti aku ketergantungan. Akhirnya aku buka fb, dan mengobrol sedikit dengan sahabat asrari puadi, ya ya ya.  sudah setengah jam berlalu, dosen yang ditunggu belum datang juga, aku masih sibuk dengan hape. Dan berharap orang tua akan menelponku (lho? Yg butuh siapa?) oke, yahh setidaknya mereka bisa bilang kalo mereka kangen atau menanyakan keadaanku, tapi itu tak akan terjadi. Aku mencoba berfikir lagi, aahhh hidup ini terlalu singkat, kalo aku terus bergulat dengan pikiran lalu bagaimana dengan aksi? Pikirku begitu.
            Sudah 1 jam, dosen belum juga datang. Aku memutuskan untuk ke sekre gova, ada mba ratih yg manis seperti biasanya, ada mba silva juga yang lebih mirip orang mau kondangan daripada mau kuliah hihihi dengan rok dan sepatu wedges, mba sil anggun sekali, pikirku. Aku diam. Lalu datang mas yusuf, dengan membawa 2 minuman. Mengobrol dan tertawa, aku masih sibuk dengan pikiranku dan tak tahu harus berbuat apa. aku malah memandangi pohon besar yang ada di parkiran kampus, di beberapa kondisi (seperti saat ini) pohon itu terlihat menyeramkan, pikirku lagi. dan saat tongkrongan itu sudah terlalu ramai aku beranjak. Mungkin benar kata orang orang tentangku, aku suka menyendiri, aku suka tempat yang sepi (kukatakan lebih ke tempat yg tenang daripada sepi) aaahhh tak ada yang salah ku kira. Dan aku memutuskan untuk telpon embah, diangkat! Ternyata embah lagi sakit. Saat itu aku sadar, aku tak mungkin selamanya menggantungkan hidup pada orang tua. Ya, hal itu membuatku berfikir lagi. aahhh aku jadi kangen ayah (saat menuliskan ini) suatu anugerah bagiku bisa hidup hingga sebesar ini J dhhh kenapa jadi melankolis begini. Lanjut ke cerita tadi, selesai aku menelpon embah, aku langsung masuk ke dalam sekre, ada  mba tata yang masih pucat (baru sembuh dari sakit kemarin) dan mas pandu yg tetap gokil seperti biasa. lalu disusul dyah, april. Dan suasana jadi ramai. Aku ingin pulang! Tapi males banget jalan dari kampus sampai kos, yang bener aja? Ya ga papa sih, tapi lemes gitu. Aku mnunggu dyah menyelesaikan makan nya, dan kusuruh dia mengantarku (adakah pilihan lain?) kurasa tidak. Dyah sibuk ngobrol dengan bayu, sementara mba tata lagi sibuk nonton tv dan april sedang bercanda dengan mas pandu. aku bingung mau ngapain. Aku pengen curhat dengan dyah, tapi dyah masih ngobrol dengan bayu, dan aku tahu aku gak akan di perhatikan. Aku langsung beranjak. Bayu tahu aku kesal, ya memang aku kesal, tapi aku berusaha menutupinya dengan tawa hehehe (dalam hati: ayo dong din, bersikaplah dewasa!) aku tak ingin terlihat kesal dimata mereka, ya aku berusaha sewajar mungkin untuk bersikap biasa saja. Hhh... ternyata bayu lumayan peka juga.
            Mas chandra lewat, ahh aku masih berhutang padanya. Aku belum minta maaf atas insiden yang kutulis disini, duhh piye iki? Sejenak aku berfikir untuk menyapanya, tapi rasa bersalah dan malu ini mengurungkan niatku. Aku diam saja, sebenarnya, aku tak tahu caranya meminta maaf. Aku takut, aku aahh entahlah!!! Mungkin aku akan tahu caranya setelah aku bisa memaafkan orang lain. Gak aneh sih, aku gak bisa maafin orang dan aku gak bisa minta maaf. Samasekali tidak! Dan pikirku, kalo begitu apa gunanya semua shalat puasa dan amal ibadahku jika aku tak minta maaf?? Aku tahu, Allah tak akan menerima nya. Dan  begitulah, karena aku manusia, dan punya pikiran, mungkin ini semua membuat hidup jadi tak mudah. 
            Tiba tiba aku merasa pusing, ah mungkin vertigo ku kambuh lagi tapi aku ingin menyelesaikan nya. okelah. Jadi ingat juga tadi mas yusuf sempat bertanya, “din, punya korek?” dan tak akan kutulis apa yg kukatakan padanya. Itu pertanyaan aneh! Kenapa aku yg ditanya? Bukankah ada banyak orang disekre, dan dia menyalakan rokok, damn! Kekesalan ku tak berhenti sampai situ saja, tapi aku juga ingat, hari ini aku puasa, masa karena hal kayak gitu aku jadi kesal? Nanti puasaku gak dapet pahala, Cuma dapet laper & haus aja. Aku istighfar..
            Dan mas pandu menanyaiku juga “din, tulisan kamu mana? Aku jadi book reader mu hlo, tak tunggu hlo bla bla bla...” aku bingung. Buku apa? maksud nya apa? kenapa dia nanya begitu? aku berusaha santai menanggapinya, tapi dalam hati mungkin aku tahu, mungkin yg dia maksud, blog ku yang isinya curhat yg telah menyakiti banyak orang aahhh, namanya juga dinda violence, dinda jahat, dinda liar, dinda nyebelin! Tak tahu lah. Sampai detik ini, aku mendesah, bingung. Kalopun blog ini dibaca sama orang sedunia pun AKU TAK PEDULI AKU TAK AKAN PEDULI DAN AKU TAK PERNAH PEDULI. Aku jahat ya? iya aku jahat banget. Kalo ada yang bilang “jangan curhat di blog ini” aku juga gak peduli, kenapa aku gak boleh nulis curhat ku disini sementara mereka yang bilang begitu tak pernah ada untuk mendengar curhatku trus aku harus gimana????
            Aku nangis, aku bener bener nangis sekarang. Sumpah, aku gak peduli. Mau orang bilang apa dan coment gimana juga aku gak peduli. orang orang hanya bisa berkomentar tanpa tahu bagaimana diriku, yg terjadi padaku dan perasaanku. Ya, mereka Cuma bisa komentar.
            Maaf, aku memang labil, aku memang jahat, dan aku kira aku bisa membuatku sedikit merasa lebih baik, dan hidup dengan cara yg lebih baik. Dan aku telah meninggalkan rokok dan kopi, semenjak curhat dengan pak ustadz. Dari sekian banyak orang, mungkin dia lah yg paling bisa mengerti walau dia tak tahu diriku. Mungkin dia yang paling sering ada dalam masa masa tersulit dalam hidupku,  mungkin dia yang paling bisa mengerti, aku merokok, aku over aku labil. Dan hanya dia yang tidak menyalahkan ku.  Hanya dia yang bisa menasehati tanpa menghakimi. Sekali lagi, aku jadi terlalu naif.
rasanya, aku ingin nyebur kelaut saja
            Dan walau bagaimanapun juga, aku tetaplah seorang manusia, seorang gadis, dengan segala tingkah laku ku yang seperti ini. mungkin saat pertama kali banyak yang bilang, dinda pendiem,dinda baik, tapi sebenernya mereka katakan itu karena mereka belum mengenalku. Dan saat aku mulai memunculkan sifat sifatku yg tak mereka tahu lalu mereka bilang “berubahlah jadi dinda yang dulu...” tapi aku tak bisa, karena inilah diriku. Aku bisa luput, dan aku sering salah, maafkan aku. Dan bagaimanapun juga aku tak pernah bisa dimaafkan oleh siapapun karena aku sendiri belum bisa memaafkan. Semua luka, yang kudapat, sakit hati, telah kupendam selama hampir 18 tahun hidupku ini, maafkan aku. Mungkin ini alasan, kenapa aku sering menamakan diriku violence, dan blog ini kuberi judul learn to life, karena aku memang belum benar benar hidup, sebagai manusia.  Dan sayup sayup kudengar adzan berkumandang, aku mengakhiri tulisan ini untuk segera berbuka,Alhamdulillah.
 alif laam miim....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar