Rabu, 24 September 2014

dear mamah



Dear mamah...
Entah kenapa aku berfikiruntuk menuliskan ini tentangmu, tentang kita. Meskipun aku tak yakin apakah kau membacanya atau tidak, aku tak mungkin bisa mengatakan apa yang aku rasakan, karena aku tak mempunyai keberanian untuk itu,
Aku nggak tahu apa yang salah, kenapa aku selalu merasa bahwa kau benci padaku, kenapa sikapmu seolah2 menjelaskan bahwa kau tak penah menginginkanku... sering aku bertanya dalam hati, seberapa berharganya diriku ini di matamu? Aku selalu diam, namun itu membuatku serba salah. Aku tak mungkin menghalangi keputusanmu, aku ini siapa bagimu?
Aku sudah se rusak ini, kau pun tak peduli, bahkan dirimu tak tahu. Dan hanya embah yang menegurku, yang menasehati, yang terlihat benar2 peduli. kemanakah jiwa seorang ibu yang kau miliki? Tak pedulikah kamu pada diriku lagi?
Kau tak pernah menanyakan kabarku, apa aku yang harus memulai dulu? Baiklah...
Jika aku dapat memutar waktu, aku ingin kita mulai dari awal, tidak berpura pura untuk bersikap sebagai seorang anak dan seorang ibu. Mungkin kau lelah memahamiku, atau mungkin kau lelah menjadi ibu.. tapi aku tak pernah lelah untuk berusaha jadi anak yang baik untukmu, aku tahu itu kewajibanku. Aku akan melakukan apapun asalkan itu bisa menyenangkan hatimu.
Kadang aku berfikir,,, jika Tuhan mengijinkan ku untuk membencimu maka aku akan membencimu, tapi sekarang pikiranku tak sedangkal iitu. Maafkan aku..
Jika kau mau, sekali saja lihatlah aku, aku sudah dewasa sekarang. Terimakasih telah melahirkan ku, dan maaf aku belum bisa membalas jasamu.
Aku berusaha untuk tidak menuntut apapun lagi darimu, aku berusaha... walau kadang aku menyalahkan mu atas rasa sepi yang kuderita, namun kini aku mengerti, sebenarnya kita sama sama kesepian, kesepian karena kehilangan orang yang paling kita cintai di dunia ini. aku pikir kita dapat saling mengobati dan mengisi rasa kesepian ini, namun itu hanya menjadi harapanku.
Jujur, aku tak pernah mengharapkan hal ini, bisakah kita bersikap sebagai ibu dan anak? Ayolah,, kumohon. Tak perlu dirimu menjadi sosok ibu seperti yg ada dalam mimpiku, setidaknya,,, tolong lihat aku sebagai anakmu, beri aku sedikit perhatian, ah tidak, cukup dengan senyuman, iya sebuah senyuman yang bisa melegakan aku.
Dan aku tak akan menyalahkan mu lagi atas apa yang terjadi pada hidupku, iya aku ini bajingan, aku tak pantas jadi anakmu, tapi nyatanya kau lah yang melahirkan aku dan aku telah memilih jalanku sendiri, iya, aku tak akan menyalahkanmu.
Maafkan aku yang “manja” ini, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku tak akan melupakanmu serta semua kebaikan yang kau beri padaku, aku akan menjalani hidupku dan pilihan yang kuambil, aku sudah dewasa sekarang, aku tak akan menuntutmu apapun lagi.
Aku sudah dewasa sekarang, aku tahu caranya membunuh sepi dan mengatasi rasa sakit ini, iya aku bisa.
Aku berfikir tentang mereka, yang tak pernah melihat ibu dan ayahnya, bagaimana caranya mereka mengatasi sepi ini, atau mereka memilih diam karena itu sudah biasa, aku tak tahu..
Maafkan aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar