Dear
mamah...
Entah
kenapa aku berfikiruntuk menuliskan ini tentangmu, tentang kita. Meskipun aku
tak yakin apakah kau membacanya atau tidak, aku tak mungkin bisa mengatakan apa
yang aku rasakan, karena aku tak mempunyai keberanian untuk itu,
Aku
nggak tahu apa yang salah, kenapa aku selalu merasa bahwa kau benci padaku,
kenapa sikapmu seolah2 menjelaskan bahwa kau tak penah menginginkanku... sering
aku bertanya dalam hati, seberapa berharganya diriku ini di matamu? Aku selalu
diam, namun itu membuatku serba salah. Aku tak mungkin menghalangi keputusanmu,
aku ini siapa bagimu?
Aku
sudah se rusak ini, kau pun tak peduli, bahkan dirimu tak tahu. Dan hanya embah
yang menegurku, yang menasehati, yang terlihat benar2 peduli. kemanakah jiwa
seorang ibu yang kau miliki? Tak pedulikah kamu pada diriku lagi?
Kau
tak pernah menanyakan kabarku, apa aku yang harus memulai dulu? Baiklah...
Jika
aku dapat memutar waktu, aku ingin kita mulai dari awal, tidak berpura pura
untuk bersikap sebagai seorang anak dan seorang ibu. Mungkin kau lelah
memahamiku, atau mungkin kau lelah menjadi ibu.. tapi aku tak pernah lelah
untuk berusaha jadi anak yang baik untukmu, aku tahu itu kewajibanku. Aku akan
melakukan apapun asalkan itu bisa menyenangkan hatimu.
Kadang
aku berfikir,,, jika Tuhan mengijinkan ku untuk membencimu maka aku akan
membencimu, tapi sekarang pikiranku tak sedangkal iitu. Maafkan aku..
Jika
kau mau, sekali saja lihatlah aku, aku sudah dewasa sekarang. Terimakasih telah
melahirkan ku, dan maaf aku belum bisa membalas jasamu.
Aku
berusaha untuk tidak menuntut apapun lagi darimu, aku berusaha... walau kadang
aku menyalahkan mu atas rasa sepi yang kuderita, namun kini aku mengerti,
sebenarnya kita sama sama kesepian, kesepian karena kehilangan orang yang paling
kita cintai di dunia ini. aku pikir kita dapat saling mengobati dan mengisi
rasa kesepian ini, namun itu hanya menjadi harapanku.
Jujur,
aku tak pernah mengharapkan hal ini, bisakah kita bersikap sebagai ibu dan
anak? Ayolah,, kumohon. Tak perlu dirimu menjadi sosok ibu seperti yg ada dalam
mimpiku, setidaknya,,, tolong lihat aku sebagai anakmu, beri aku sedikit
perhatian, ah tidak, cukup dengan senyuman, iya sebuah senyuman yang bisa
melegakan aku.
Dan
aku tak akan menyalahkan mu lagi atas apa yang terjadi pada hidupku, iya aku
ini bajingan, aku tak pantas jadi anakmu, tapi nyatanya kau lah yang melahirkan
aku dan aku telah memilih jalanku sendiri, iya, aku tak akan menyalahkanmu.
Maafkan
aku yang “manja” ini, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku tak akan
melupakanmu serta semua kebaikan yang kau beri padaku, aku akan menjalani
hidupku dan pilihan yang kuambil, aku sudah dewasa sekarang, aku tak akan
menuntutmu apapun lagi.
Aku
sudah dewasa sekarang, aku tahu caranya membunuh sepi dan mengatasi rasa sakit
ini, iya aku bisa.
Aku
berfikir tentang mereka, yang tak pernah melihat ibu dan ayahnya, bagaimana
caranya mereka mengatasi sepi ini, atau mereka memilih diam karena itu sudah
biasa, aku tak tahu..
Maafkan
aku.